“Pelita Hati”


Bismillahirrahmanirrahiim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

alquran

 

“Hati” sifatnya seperti yang diisyaratkan padanannya yaitu “Kalbu”. “Kalbu” berasal dari Bahasa Arab yang berakar dari kata kerja qalaba yang artinya “membalik” — berpotensi untuk berbolak balik; suatu kali mau menerima dan suatu kali menolak. Hati memang tidak konsisten, kecuali yang mendapat bimbingan cahaya Ilahi.

Adapun hal-hal yang berasal dari “kata hati”, hasilnya tidaklah selalu benar. Mengikuti hadis Rasulullah SAW, kadang ia merupakan lammah malakiyah (bisikan malaikat) dan kadang merupakan lammah syaithaniyah (bisikan setan) – yaitu saat setan memperdaya hati. Bahkan boleh jadi “kata hati” kadang juga merupakan bisikan nafsu.

Bisikan yang datang dari setan merupakan bisikan nafsu yang enggan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi dan bahkan tidak merasa puas meskipun keinginannya itu ditukar dengan sesuatu yang lain yang memilki nilai lebih ketimbang keinginan pertama. Bila bisikan setan gagal merayu di satu sisi, ia akan beralih pada sisi lainnya. Karena tujuannya adalah menjerumuskan manusia ke jurang manapun sampai ia terjatuh.

Adapun bisikan yang datang dari malaikat itulah Ilham yang ditampakkan oleh Allah SWT guna menerangi jalan manusia. Salah satu tanda bahwa bisikan tersebut datangnya dari Allah SWT adalah kesesuainnya dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Kalbu yang disinari oleh lentera Ilahi memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi akal dan sifat terangnya juga berbeda. Terangnya akal bersumber dari analisis informasi pancaindra yang bersifat fisik material karena itu cahanya tidak jarang gagal menembus kegelapan, sulit baginya menyingkap yang tersirat dari yang tersurat. Allah menganugerahi manusia dengan “kalbu”. Dengan kalbu ini, kita sebagai manusia dapat berimajinasi, merasakan, dan mengekspresikan keindahan. Melalui kalbu inilah kita kita dapat percaya dan berhubungan dengan Allah SWT serta menangkap cahaya petunjuk-Nya.

Seringkali cahaya petunjuk itu dating secara tiba-tiba tanpa disertai oleh analisis bahkan kadang tidak terpikirkan sebelumnya. Kedatangannya bagaikan kilat balik dalam sinar maupun kecepatannya, tapi tidak dapat pula kita mengundangnya. Potensi untuk meraih cahaya petunjuk-Nya itu ada di dalam diri setiap insan, walaupun peringkat dan kekuatannya pada setiap insan berbeda-beda. Ada yang sedemikian kuat sehingga tak ubahnya seperti informasi yang didapat oleh indra; ia begitu meyakinkannya sehingga melebihi keyakinan terbitnya matahari dari sebelah Timut. Tetapi ada juga yang begitu lemah sehingga tidak dapat dirasakan oleh yang menerimanya, atau bahkan tidak diakui kehadirannya.

Itulah “kata hati” yang ditampakkan oleh Allah SWT. Dan itulah nurani, intuisi, atau dalam Bahasa agama disebut hidayah dan firasat.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS. 24:35)

 

Dikutip dari Lentera Al-Qur’an – M. Quraish Shihab hal 7-9.

Wallahu’alam