Obligasi Ritel Indonesia


Ardhiana Sitarusmi

Universitas Indonesia

 

OBLIGASI RITEL INDONESIA

II.1    Kerangka Teori

Obligasi, merupakan salah satu jenis dari efek. Di Indonesia yaitu dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, efek didefinisikan sebagai berikut:

“Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif,  kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivativr dari efek”.

Obligasi/ Surat Utang adalah surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh suatu lembaga, dengan nilai nominal (nilai pari/par value) dan waktu jatuh tempo tertentu. Salah satu jenis obligasi yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia saat ini adalah obligasi kupon (coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku obligasi.

Secara umum jenis obligasi dapat dilihat dari penerbitnya yaitu, Obligasi Korporasi dan Obligasi Pemerintah[1].

  1. Obligasi Korporasi, yaitu obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan.
  2. Obligasi Pemerintah sendiri terdiri dari Obligasi Rekap, Surat Utang Negara (SUN), Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Surat Berharga Syariah Negara atau Obligasi Syariah. Obligasi Negara Ritel atau lebih dikenal dengan ORI merupakan Obligasi Negara yang dijual kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual di Pasar Perdana.

II.2      Dasar Hukum Obligasi Ritel Indonesia

  1. Undang-Undang No.24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.
  2. Peraturan Menteri Keuangan No.36/PMK.06/2006 tentang Penjualan Obligasi Negara Ritel di Pasar Perdana.[2] 

II.3      Latar Belakang Penerbitan Obligasi Ritel Indonesia

            Banyak alasan yang melatari pemerintah menerbitkan obligasi negara, termasuk Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang kini menjadi buah bibir sejak mendulang sukses di pasar perdana. Salah satunya adalah untuk mengurangi pinjaman luar negeri baik pinjaman bilateral maupun multilateral. Meskipun bunga utang pinjaman program dan pinjaman proyek lebih kecil, tetapi ada biaya-biaya lain yang ditanggung pemerintah. Sehingga jika dihitung-hitung biayanya tak berbeda jauh dengan obligasi.

Biaya pinjaman luar negeri meliputi management fee, commitment fee, penalty fee, prepayment fee, dan insurance fee. Belum lagi non financial cost seperti biaya pertemuan, negoasiasi, dan ketergantungan politis. Biaya dari pinjaman luar negeri itu juga tergantung pada rating yang diberikan negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).[3]

Alasan lain yang melatarbelakangi penerbitan ORI adalah untuk mendukung efektivitas bank sentral (central registry) dalam melaksanakan kebijakan moneter serta membangun struktur utang pemerintah yang berkesinambungan. Untuk yang terakhir dapat dicapai karena pasar sekunder yang berkembang akan mendukung upaya pemerintah untuk melakukan re-financing utang-utangnya secara sustainable.[4]

Pemerintah mulai menggunakan obligasi negara sebagai instrumen pendanaan untuk menutupi anggaran sejak tahun 2002 lewat penerbitan Surat Utang Negara (SUN) seri FR 2001. Sebelumnya, pemerintah menerbitkan obligasi senilai 400 triliun rupiah, tetapi untuk tujuan khusus merekapitalisasi perbankan.

Sejak tahun 2002 hingga saat ini pemerintah rutin mencantumkan penerbitan obligasi negara dalam anggaran. Baru pada pertengahan 2006, pemerintah meluncurkan ORI sebagai bagian dalam angka target penerbitan Surat Utang Negara (SUN). Berbeda dengan SUN rupiah dan dollar AS yang pembelinya adalah insititusi, khusus untuk ORI, kreditornya adalah rakyat Indonesia (individu warga Republik Indonesia). Namun, di pasar sekunder ORI dapat saja berpindah ke pemodal institusi, karena tidak ada lagi pembatasan identitas pembeli.[5]

II.4      Terminologi Obligasi Ritel Indonesia

Penerbitan ORI sebetulnya bukan merupakan sejarah baru dalam industri keuangan Indonesia modern. Untuk pertama kali (dalam sebuah buku yang diterbitkan Bank Negara Indonesia), obligasi nasional Republik Indonesia diterbitkan pada bulan Mei 1946. tujuannya, mengumpulkan dana masyarakat untuk perjuangan masyarakat kala itu antusias membeli obligasi negara karena idealisme kemerdekaan yang masih tinggi. Dana hasil penerbitan obligasi nasional 1946 digunakan untuk membiayai sektor pertanian dan kerajinan rakyat. Hal tersebut juga sebagai upaya untuk meredam inflasi.

Ketika terjadi defisit hebat di tahun 1950, pemerintah mengambil kebijakan ‘pengguntingan uang’. Separuh mata uang dipakai sebagai alat pembayaran, dan separuh lainnya ditukar dengan obligasi pemerintah yang kemudian dinamakan Obligasi RI 1950.

Sembilan tahun kemudian, pemerintahan Presiden Soekarno kembali menerbitkan obligasi. Ada dua obligasi yang didistribusikan ke rakyat di tahun 1959, yaitu Obligasi Konsolidasi 1959, dan Obligasi Berhadiah 1959 senilai dua juta rupiah. Penerbitan Obligasi Konsolidasi ini dilakukan untuk menggantikan uang rakyat yang dibekukan di bank-bank pemerintah. Sementara Obligasi Berhadiah lebih bersifat sukarela sebagai dana pembangunan. Obligasi Berhadiah ini berjangka waktu 30 tahun yang kemudian banyak dibeli pemodal individu dalam negeri. Pada tahun-tahun pertama, Obligasi Berhadiah lancar memberikan kupon tiap tahun kepada pemiliknya. Namun lama kelamaan, karena bentuknya masih fisik, dan sudah berpindah-pindah tangan, keberadaan obligasi ini tidak jelas lagi. Banyak yang akhirnya memvonis obligasi-obligasi negara Orde Lama ini default atau gagal menebus kembali utangnya kepada rakyat.

Salah satu kelemahan obligasi negara yang diterbitkan pemerintah Orde Lama yakni tidak dijaminnya oleh Undang-Undang. Berbeda dengan saat ini, pemerintah menerbitkan surat utang negara baik untuk institusi maupun ritel dengan payung hukum yang jelas.

II.5      Kondisi Obligasi Ritel Indonesia Masa Kini

II.5.1   Perbedaan antara Deposito, ORI, Saham, atau Reksadana

            Terbitnya Obligasi Ritel Indonesia makin menyemarakkan pilihan investasi. Kehadiran ORI membuat masyarakat Indonesia semakin terbiasa dengan produk-produk pasar modal. Dalam skala risiko, obligasi berada di antara deposito dan saham. Sejalan dengan itu, tingkat hasil investasi yang dapat diharapkan dari obligasi adalah diantara deposito dan saham. Adagium yang berlaku dalam hal ini, adalah: semakin tinggi potensi risiko, semakin besar potensi hasilnya. Secara umum, obligasi adalah instrumen investasi bagi pemodal yang menginginkan hasil lebih tinggi dari bunga deposito, tetapi lebih amandari saham.[6]

Diantara semua jenis obligasi yang ada di pasar sekarang ini, maka ORI dapat dikatakan paling aman. ORI lebih aman dibandingkan dengan SUN (Surat Utang Negara) karena tenornya lebih pendek, hanya tiga tahun. Sementara obligasi negara secara umum lebih aman daripada obligasi korporat, karena potensi bangkrutnya negara jauh lebih kecil dibandingkan dengan bangkrutnya perusahaan. Bahkan dapat  dikatakan, ORI sama amannya dengan deposito karena keduanya dijamin. Deposio samapai jumlah tertentu dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan ORI dijamin oleh pemerintah. Risiko ORI muncul jika ada perbahan harga di pasar sekunder. Harga ORI di pasar sekunder dapat saja naik turun sehingga dimungkinkan terjadi capital loss akibat harga jual lebih rendah daripada harga beli. Ini bisa dihindari bila investor tetap disiplin memegang ORI hingga jatuh tempo. Untuk risiko ini, ORI memberikan kompensasi lain, yakni bunga yang lebih tinggi.

Suku bunga deposito berjangka sebulan saat ini paling tinggi adalah 10% per tahun. Sedangkan ORI (ORI 001) menawarkan suku bunga sebesar 12,05 % per tahun. Bunga deposito dan ORI dibayarkan setiap bulan. Perlakuan pajak penghasilan untuk kedua instrumen ini sama, yakni dikenakan Pajak Penghasilan final sebesar 20%.

Perbedaan ORI dengan Deposito, Saham, atau Reksadana[7]

Keterangan Saham Deposito ReksadanaTerproteksi ORI
Jatuh Tempo Tidak ada Ada Ada Ada
Kupon/Bunga Tidak ada Ada,dapat berubah setiap saat Tidak ada Ada,  jumlah tetap, di atas bunga deposito pada saat penerbitan
Dividen Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Capital gain Ada Tida ada Ada Ada
Jaminan Pemerintah Tidak ada Ada, (maks Rp. 100 juta dengan syarat) Tida ada Ada (tanpa batasan dan tanpa syarat
Perdagangan di Pasar Sekunder Dapat Tidak dapat Tidak dapat Dapat

II.5.2   Untung Rugi Investasi Obligasi Ritel Indonesia

ORI diterbitkan untuk membiayai anggaran negara, diversifikasi sumber pembiayaan, mengelola portfolio utang negara dan memperluas basis investor. Dengan membeli ORI, berarti masyarakat telah meminjamkan uang kepada Negara dan membantu pendanaan Negara. Investasi melalui ORI dapat dikatakan cukup aman karena pembayaran dijamin oleh pemerintah. Dari sisi bisnis, ORI juga cukup menguntungkan dengan nilai suku bunga lebih tinggi dibandingkan dengan deposito dan juga ORI dapat dijual kembali, sehingga apabila harga pasar untuk ORI tinggi maka pemilik ORI akan mendapatkan keuntungan dari Capital Gain karena harga pasar ORI yang meningkat.

Secara ringkas berikut ini merupakan keuntungan Investasi ORI:

  1. Aman dan terjamin karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh Undang-Undang.
  2. Memberikan keuntungan yang menarik karena kupon yang lebih tinggi dari suku bunga bank (di pasar perdana).
  3. Dapat diperdagangkan di Pasar Sekunder sesuai dengan harga pasar dan  adanya potensi capital gain di Pasar Sekunder.
  4. Prosedur pembelian dan penjualan yang mudah dan transparan.
  5. Pembayaran kupon dan pokok dilakukan tepat waktu dan secara online ke dalam rekening tabungan investor.
  6. Dapat dijadikan jaminan bank, dan deposit untuk bertransaksi saham.
  7. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam Pembangunan Nasional.

Selain berbagai kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan dalam berinvestasi ORI, terdapat pula risiko dalam investasi ini, yakni:

  1. Risiko pasar (market risk)

Market risk merupakan potensi kerugian bagi investor bila harga ORI di pasar sekunder lebih rendah dari harga pembelian (baik di pasar perdana maupun pasar sekunder). Umumnya harga obligasi akan turun jika ada kenaikan suku bunga. Kerugian atau capital loss dapat terjadi apabila investor menjual ORI di pasar sekunder sebelum jatuh tempo pada harga jual yang lebih rendah dari harga beli.

  1. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Liquidity risk merupakan potensi kerugian apabila sebelum jatuh tempo pemilik ORI yang memerlukan dana tunai mengalami kesulitan dalam menjual ORI di pasar sekunder pada tingkat harga pasar yang wajar.

II.5.3   Perkembangan ORI 001 hingga ORI 004

            Sebagai instrumen investasi, ORI sudah lebih populer dibandingkan saat pertama kali diterbitkan Juni 2005. Berkat sosialisasi pemerintah dan promosi para agen penjual yang gencar sejak tahun 2006, obligasi ritel ini sudah memasyarakat, khususnya di kalangan investor ritel. Popularitas dicerminkan oleh tren kenaikan penjualan ORI dari seri pertama sampai keempat. Apabila pada ORI 001 pemerintah meraih dana Rp 3,3 triliun, pada ORI 002, ORI 003, dan ORI 004 perolehan naik, menjadi masing-masing Rp 6,2 triliun, Rp 9,4 triliun, dan Rp13,46 triliun[8].

Selain populer, keberhasilan ORI karena imbal hasil yang ditawarkan menarik minat pemilik modal. Walaupun bunga kupon pertahun ORI 002 (9,28 persen), ORI 003 (9,4 persen), dan ORI 004 (9,5 persen) lebih rendah dari ORI 001 yang sebesar 12,05 persen, dana yang mengalir ke instrumen ORI malah meningkat. Ini karena suku bunga pasar turun. Suku bunga deposito yang biasanya menjadi acuan para pemodal individu turun, dari 9,1 persen pada pertengahan tahun 2006, pada awal tahun 2008 hanya mencapai 6,4 persen.[9]

Hal lain yang menarik adalah investor individu pada umumnya tergolong pemodal yang lebih senang memegang obligasi negara sampai jatuh tempo. Hal itu terlihat pada porsi kepemilikan individu ORI 001, ORI 002 dan ORI 003 per Januari 2008, yaitu mencapai 41,38%, 45,24% dan 59,38%.[10]

Hasil Penerbitan Obligasi Negara Ritel [11]

 UntitledSumber : Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Negara

Setelah penjualan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri 004, departemen keuangan akan kembali menjual ORI 005 sekitar September 2008. Konsep ORI kedepan pun aka lebih diperbaharui seperti pajak ORI yang tadinya di primary market, maka kedepan di secondary market. Terkait dengan tax treaty, maka pemerintah akan menghormatinya sehingga investor asing dapat leluasa berinvestasi dalam ORI.[12]

Selain itu juga akan ada pengecualian untuk pemungutan pajak penghasilan final. Pengecualian diberlakukan jika yang mengadakan adalah bank, dana pensiun, dan reksa dana yang sampai 5 tahun. Pajak penghasilan yang diperoleh akan diperhitungkan dalam pajak penghasilan akhir tahun.

Dalam menyikapi animo masyarakat  yang cukup tinggi dalam berinvestasi pada ORI, pemerintah perlu mengimbanginya dengan pengelolaan utang yang baik. Pengelolaan utang ini berpengaruh pada kredibilitas negara. Yang tak kalah penting, pembelanjaan anggaran yang bersumber dari utang haruslah dibuat efektif agar beban pemerintah dalam mengelola utang tidak kian berat. Bila pengelolaan utang berjalan dengan baik dan efektif, maka pinjaman tersebut akan berpengaruh positif pada perekonomian negara. Pemerintah idelanya harus berusaha keras mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, bila ekonomi bergulir maka beban pembayaran utang otomatis akan berkurang.


[1] Obligasi, Reksadana, atau Saham?, www.beritanet.com, diunduh 23 Mei 2008.

[2] Investasi Aman dan Mendukung Pendanaan Negara, www.wealthindonesia.com, diunduh 25 Mei 2008.

[3] Novi Nuryanti, ” Utang Domestik Kian Jadi Andalan”, dalam Investor, (Nomor 152 Volume VIII, Agustus 2006).

[4] Yulyanto, ”Aspek Hukum Bisnis Penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI)”, Tesis, Pasca Sarjana FH UI, Tidak Diterbitkan, 2006.

[5] Nuryanti.,Loc.cit.

[6] Parina Theodora, ”Antara Deposito, ORI, dan Saham”, dalam Investor, (Nomor 152 Volume VIII, Agustus 2006).

[7] Komang Darmawan, ” Investasi ORI”, dalam Investor, (Nomor 152 Volume VIII, Agustus 2006).

[8] Budi Susanto, “Tantangan dan Kesempatan ORI di 2008”, www.unisosdem.org, diunduh 23 Mei 2008.

[9] Ibid.

[10] Bhimantara Widyajala, “Membangun Negeri Dengan ORI (Syariah)”, www.sebi.ac.id, diunduh 24 Mei 2008.

[11] Hasil Penerbitan Obligasi Negara Ritel, www.dmo.or.id, diunduh 01 Juni 2008.

[12] Istik Wahyuni, “ORI 005 akan diterbitkan September”, www.detikfinance.com, diunduh 23 Mei 2008.