IDEOLOGI POLITIK


Ardhiana Sitarusmi
Ilmu Administrasi Fiskal
Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik
Laporan Bacaan “Ideologi Politik”

IDEOLOGI POLITIK
Menurut Carlton C. Rodee, Ideologi adalah kumpulan gagasan yang secara logis berkaitan (ideologic), an mengidentifikasikan prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang memberi keabsahan bagi institusi politik dan perilaku.
Fungsi Ideologi:
1. Memberikan dasar legitimasi pada pemerintah
2. Menjadi dasar untuk menentang kekuasaan status quo
3. Mempersatukan rakyat
4. Pedoman untuk memilih kebijakan dan perilaku politik
5. Prinsip perjuangan yang menjadi alat komunikasi simbolis antara pemimpin dengan massa.
Ciri-ciri Ideologi Politik:
1. Komprehensif: menyeluruh, menyentuh banyak aspek-aspek hidup kemasyarakatan
2. Pervasif: membentuk keyakinan dan tinadakan politik banyak orang dan dikenal dalam jangka waktu lama.
3. Ekstensif: melibatkan banyak orang pendukungnya dalam banyak peran politik dan bisa melibatkan banyak negara.
4. Intensif: komitmen untuk mendukungnya kuat.
Komponen-komponen Ideologi Politik:
1. Nilai-nilai
2. Visi tentang masyarakat politik yang ideal
3. Konsepsi tentang sifat dasar manusia
4. Strategi perjuangan
5. Taktik politik
A. Anarkisme
Menurut Krishan Kumar, merupakan falsafah politik yang memandang masyarakat bisa ( dan sudah seharusnya ) eksis tanpa aturan-aturan. Sedangkan menurut Carlton C. Rodee merupakan pandangan ekstrim tentang kebebasan individu dan tentang organisasi sosial yang tanpa peringkat atau wewenang.
Asumsinya adalah bahwa negara merupakan gudang korupsi dan ketidakadilan dalam tubuh politik. Pemeritah pada hakikatnya adalah opresif, oleh karena itu, manusia seharusnya membersihakan diri dari semua bentuk kekuasaan pemerintahan sebelum membangun masyarakat baru yang berdasarkan keadilan, cinta dan semangat kerjasama.
Tokoh pemikir anarkisme pertama yang sistematik adalah William Godwin, sedangkan tokoh pemikir anarkisme kolektivis adalah bakunin dan Kropotkin.
B. Komunisme
Kata komunisme menandakan suatu cita-cita akan terbentuknya tipe masyarakat dimana kekayaan diserahkan kepada komunitas, dan tiap-tiap warga masyarakat bekerja untuk kebaikan bersama menurut kemampuannya dan diberi upah sesuai dengan kebutuhannya. Tipe masyarakat ini merupakan cita-cita dalam jangka panjang.
Kata komunisme mendapatkan pengertiannya yang sekarang ini pada tahun 1848 ketika karl Marx dan frederick Engels menulis Communist Manifesto.

C. Sosialisme
Merupakan sebuah teori politik dengan ajaran-ajaran utama seperti kepemilikan kolektif atas alat-alat produksi, dan sejauh dimungkinkan pertukan psar harus digantikan oleh bentuk distribusi lain yang didasarkan pada kebutuhan sosial.
Sosialisme modern yaitu memusatkan perhatian pada upaya membebaskan kelas pekerja industri dari belenggu kapitalisme industri yang muncul di Ingris dan Perancis pada 1820-an dan 1830-an sebagai konskuensi dari industrialisasi.
D. Liberalisme Klasik
Perkembangan idelogi ini berkaitan dengan pemikiran dari masa renaissaince dan revolusi perancis pada akhir abad ke-18. menurut Rodee, liberalisme merupakan ideology kelas tertentu yang mencerminkan kepentingan tertentu pula. Fungsi pemerintahan dalam negara diminimalisir hingga muncul istilah negara sebagai watchdog. Niali-nilai doktrin yang diutamakan adalah kebebasan individu.
E. Konservatisme
Konservatisme tidak secara tegas diwujudkan dalam seperangkat doktrin, tetapi lebih merupakan sikap politik ketimbang filsafat atau gerakan. Istilah tersebut secara tidak langsung menyatakan;
1. Ketakutan akan perubahan yang tiba-tiba
2. Penghormatan terhadap pranata dan peraturan yang telah mapan.
3. Dukungan terhadap elite dan hierarki.
Konservatisme adalah doktrin yang meyakini bahwa realitas suatu masyarakat dapat ditentukan pada erkembangn sejarahnya, dan oleh karena itu sebaiknya pemerintah membatasi diri dalam melakukan campur tangan terhadap perilaku dan kehidupan masyarakatnya.
F. Neo-Liberalisme
Karakteristik menurut Anthony Giddens, antara lain:
1. Peranan pemerintah muncul
2. Masyarakat madani yang otonom
3. Fundamental pasar
4. Otoritarianisme moral plus individualisme yang kuat
5. Kemudahan pasar tenaga kerja
6. Penerimaan ketidaksamaan
7. Nasionalisme tradisional
8. Negara kesejahteraan sebagai jaring pengaman.
9. Modernisasi linear
10. Kesadaran ekologis yang rendah
11. Teori realis tentang tatanan internasional
12. Termasuk didalamnya dunia dwikutub.
G. Fasisme
Fasisme berasal dari bahasa Italia, fascio, yang diambil dari bahasa latin fasces, yang berarti seikat batang kayu. Istilah ini dipakai sebagai simbol kekuatan diaman beramacam unsur bersatu, simbol pengabdian, loyalitas, pengakuan, dan kepatuhan atas otoritas negara sebagai sumber dari segala sumber hukum, dan kepatuhan terhadap pemerintah dalam semua aspek kehidupan masional.
Doktrin-doktrin fasisme:
1. Gagasan mengenai superioritas ras. Dengan gagasan ini mereka merasa memiliki hak untuk memperbudak ras yang inferior.
2. Anti-Semitisme. Mitos ras itu melahirkan kebencian-kebencian terhadap ras lain, khususnya yahudi.
3. Totalitarisme.Menurut Gentile, fasisme tidak hanya meliputi suatu sistem organisasi politik atau pemerintahan, melainkan juga keseluruhan kehendak (will), pemikiran (thought), dan perasaan ( feelings) suatu bangsa.
Contoh pemimpin fasisme; Benito Mussolini (Italia, 1922), Hitler (Jerman, 1933), Franco (Spanyol, 1936), Tenno Heika (Jepang, !930-an), dan Juan Peron (Argentina, 19-50-an).

Sumber bacaan:
1. Budiardjo, Miriam. 2000. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.