“Banjir Jakarta 2013″


Banjir Jakarta, begitu judul tagline hari ini, Kamis, 17 Januari 2013. Bagaimana tidak, sejumlah lokasi pemukiman terendam banjir seperti Jatinegara, Kampung Melayu, Kampung Pulo, Cililitan, Kelapa Gading, Grogol, Tomang yang bahkan ketinggiannya berada di kasaran 1 hingga 2 meter.  Sejumlah ruas jalan protocol terendam banjir yakni Sudirman, Thamrin, dan sekitarnya akibat jebolnya tanggul di Latuharhary. Belum lagi Istana Kepresidenan yang tak luput dari genangan air. Jalur transportasi darat terputus, busway tidak beroperasi, KRL tidak beroperasi, banyak yang terjebak dalam genangan air. Jokowi menetapkan pada hari Kamis, 17 Januari 2013 Pukul 14.30 bahwa Jakarta dalam kondisi Tanggap Darurat hingga 27 Januari 2013. Lalu semua bertanya, apa penyebabnya? Curah hujan yang tinggi kah? Banjir kiriman dari bogor kah? Sungai Jakarta yang tersumbat dan sempit kah? Semuaya pertanyaan klasik yang terus menerus keluar saat banjir datang menghampiri Ibu Kota Jakarta. Lalu apakah jawabannya telah ditemukan?

1948344

Banjir Bundaran HI

20130116_Banjir_di_Kampung_Melayu_2825

Banjir Kampung Melayu

5R5es7LUuz

Banjir Sudirman-Thamrin

Sebagaimana dikutip dari Rizky Afriono (Koordinator Nasional) jakarta.kompasiana.com , secara geografis wilayah jakarta berada di bawah 2,5 meter permukaan laut. Hal ini menyebabkan potensi banjir akan selalu menghantui kota Jakarta. Secara toponimi banyak wilayah Jakarta bernama pulo, rawa dan setu hal ini dapat dikaitkan dengan tempat berkumpulnya air pada musim hujan. Sedangkan wilayah Jawa Barat diwilayah selatannya sangat banyak dijumpai wilayah bernama awalan Bojong (bahasa sunda) yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sumber mata air.

Catatan pertama perihal banjir Jakarta  terdapat pada Prasasti Tugu, prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara yang ditemukan di Cilincing, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti yang dibuat sekitar tahun 403 Masehi itu bertuliskan tentang penggalian kanal atau Sungai Candrabhaga oleh Rajadirajaguru dan Sungai Gomati  oleh Purnawarman. Pada masa itu, Raja Purnawarman membuat kanal sepanjang 11 kilometer untuk mengelola air agar tidak banjir yang memang sering terjadi pada masa pemerintahannya, sekaligus untuk menampung air saat musim kemarau. Candrabhaga kini dikenal dengan nama Bekasi, dan diperkirakan sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara pada masa lalu.

Pada 1620 pemerintah VOC mulai memanfaatkan potensi banjir ini dengan membangun kanal-kanal yang lurus agar aliran  banjir dapat dengan cepat teralirkan ke laut. Kanal-kanal ini juga sangat membantu dalam perdagangan VOC.Batavia dirancang dengan kanal-kanal seperti kota Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda. Karena indahnya kota Batavia para pedagang Internasional memberi nama sebutan Batavia Queen of The East untuk Batavia. Namun penataan ini tidak dilanjutkan ketika pemerintahan Napoleon Bonaparte 1808-1811 dan Perancis menggantikan posisi VOC di Batavia. Kanal-kanal yang sudah ada di urug dengan sisa-sisa pembongkaran Benteng Batavia.

Hal ini membuat aliran sungai menjadi terhambat yang menyebabkan timbulnya sumber penyakit seperti kolera dan malaria. Bencana epidemi ini memaksa pemerintah Belanda untuk membangun kota secara lebih luas ke selatan yang nantinya disebut sebagai Weltevreden, dengan Manggari sebagai batas akhirnya. Daerah ini cenderung lebih sehat dibandingkan dengan kota Batavia yang berpusat di Jakarta Utara.

Banjir juga terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda di abad 19. Tahun 1918, banjir besar melanda Batavia . Hampir seluruh Jakarta terendam. Kala itu wilayah Jakarta masih belum seluas sekarang. Salah satu yang paling parah adalah kawasan Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Sebagaimana dikutip pula dari http://www.acehtraffic.com Secara historis semenanjung dan Teluk Jakarta memang rawan banjir akibat peningkatan debit air sungai-sungai Cisadane, Angke, Ciliwung dan Bekasi pada musim hujan. Tetapi saat itu desain ini gagal diterapkan karena tingginya sedimentasi dan rendahnya pemeliharaan saluran dan kanal.

Berbagai faktor penyebab memburuknya kondisi banjir Jakarta saat itu ialah pertumbuhan permukiman yang tak terkendali disepanjang bantaran sungai, sedimentasi berat serta tidak berfungsinya kanal-kanal dan sistem drainase yang memadai.

Hal ini mengakibatkan Jakarta terutama di bantaran sungai menjadi sangat rentan terhadap banjir. Berdasarkan dokumentasi, Kota Jakarta dilanda banjir besar pada tahun 1621, 1654, dan 1918. Selanjutnya banjir besar juga terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, dan 2007.

Penyebab banjir di DKI Jakarta, secara umum terjadi karena dua faktor utama yakni faktor alam dan faktor manusia. Penyebab banjir dari faktor alam antara lain karena lebih dari 40% kawasan di DKI Jakarta berada di bawah muka air laut pasang. Sehingga Jakarta Utara akan menjadi sangat rentan terhadap banjir saat ini.

Selain itu secara umum topografi wilayah DKI Jakarta yang relatif datar dan 40% wilayah DKI Jakarta berada di dataran banjir Kali Angke, Pesanggrahan, Ciliwung, Cipinang, Sunter, dll. Sungai – sungai ini relatif juga terletak di atas ketinggian kawasan sekitarnya. Karena fungsi sungai – sungai ini tadinya merupakan saluran irigasi pertanian. Sedangkan kondisi saat ini kebanyakan lahan pertanian diubah menjadi perumahan dan lain – lain. Akibatnya  air secara otomatis berkumpul di kawasan cekungan di Jakarta Utara.

Berdasarkan data klimatografi di kawasan DKI Jakarta, intensitas hujan tinggi (2.000 – 4.000 mm setiap tahunnya) dengan durasi yang lama.  Hal ini merupakan sifat umum kawasan tropis lembab serta dampak dari pemanasan global. Curah hujan ini selanjutnya akan menciptakan limpasan air yang deras ketika jatuh di atas daerah tangkapan air (catchment) seluas 850 km2 di hulu Jakarta. Daerah tangkapan ini juga mencakup Cianjur, Bogor, Depok dan DKI Jakarta.

Pembangunan besar – besaran di kawasan ini juga menambah debit  limpasan permukaan yang akhirnya juga menambah potensi banjir di kawasan hilir sungai. Kondisi ini diperparah oleh kecilnya kapasitas tampung sungai saat ini dibanding limpasan (debit) air yang masuk ke Jakarta.  Kapasitas sungai dan saluran makro ini disebabkan karena konversi badan air untuk perumahan, sedimentasi dan pembuangan sampah secara sembarangan. Yang terakhir pengaruh peningkatan pasang air laut dan penurunan tanah di Jakarta Utara juga menyebabkan daerah Jakarta Utara semakin rentan banjir.

Sedangkan penyebab banjir dari sisi faktor manusia antara lain karena tidak terintegrasinya tata kota dan tata air di Jabodetabekjur, perencanaan tata ruang yang melebihi kapasitas daya dukung lingkungan (di antaranya kurangnya tempat parkir air dan sumber air bersih) serta lemahnya implementasi tata ruang dan tata air di Jabodetabekjur.

Kompetisi dan eksploitasi pemanfaatan  lahan di kawasan Jabodetabekjur yang sedemikian cepat juga membuat konversi besar-besaran badan air dan daerah rawan banjir (sungai, rawa, situ serta sempadannya) menjadi perumahan, kawasan industri, dll.

Selanjutnya hal ini juga mengakibatkan sedimentasi sungai akibat lumpur, sampah organik dan anorganik yang disebabkan oleh pembukaan lahan tersebut. Ketidakjelasan pembagian peran dan tugas Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur tata air juga menyebabkan memburuknya kondisi banjir yang ada. Terakhir faktor penyebab manusiawi banjir Jakarta ialah pengambilan air tanah yang berlebihan. Hal ini menyebabkan penurunan tanah semakin ekstrim terutama di Jakarta Utara.

Dari berbagai artikel tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk mengatasi banjir Jakarta yakni:

1. Adanya integrasi tata kota Jakarta dengan daerah penyangga sekitarnya yakni Bogor, Depok, Cianjur.
Pembangunan villa pribadi di daerah Bogor dan Cianjur harus memperhatikan lingkungan dan diwajibkan untuk membuat sumur resapan air hujan. Pemukiman padat di Depok juga diwajibkan untuk membuat sumur resapan air hujan. Pembangunan pemukiman boleh asal dilakukan dengan bertanggungjawab dengan memperhatikan kondisi alam sekitar. Banjir Jakarta sebenarnya harus menjadi tamparan keras bagi pengembang yang membangun dengan konsep “asal jadi, yang penting untung”. Logikanya, tanah, bumi, bukan milik pengembang namun milik alam sehingga sudah seharusnya jika mereka meminjam tanah dari alam harus diperhatikan juga keharmonisan alam. Pembangunan sumur resapan air hujan juga tidak hanya dilakukan untuk daerah penyangga namun juga yang terutama adalah di Jakarta itu sendiri. Setiap rumah atau setiap kawasan difasilitasi oleh pemerintah untuk membangun sumur resapan air hujan.

Tata kota juga meliputi pembagunan kanal-kanal air di Jakarta terintegrasi dengan daerah penyangga sehingga aliran air dapat cepat tersalurkan ke laut. Jokowi telah mencetuskan ide untuk membangun gorong-gorong air. Selain itu perlu diperhatikan pula, kondisi sungai di Ibu Kota yang semakin sempit dari masa ke masa akibat sampah yang menumpuk dan bantaran sungai yang dijadikan pemukiman oleh penduduk. Solusinya? Memperlebar sungai. Mungkin terlihat sulit untuk memperlebar sungai apabila di kanan kiri bantaran sungai telah berdiri pemukiman penduduk. Namun, apa yang tidak mungkin untuk pembangunan yang berkelanjutan? Harus ada langkah nyata dari pemerintah untuk merelokasi warga di bantaran sungai ke tempat pemukiman yang lebih layak. Tentunya dibutuhkan keberanian ekstra dari pemerintah untuk mewujudkan hal ini.  Bantaran sungai yang ideal memang sebaiknya tidak dijadikan pemukiman penduduk melainkan seharusnya merupakan kawasan hijau sehingga menjadi lokasi penyangga sungai terlebih jika ditanami oleh mangrove air tawar.

2.  Edukasi Masyarakat
Banjir selain disebabkan factor alam juga factor manusia yang memiliki kecenderungan membuang sampah sembarangan. Lihatlah sungai di sekitar tempat tinggal, pakah bebas sampah? Bisa dipastikan bahwa jawabannya adalah tidak. Kenapa? Masyarakat sekitar, alih-alih membuang sampah di tempat pembuangan sampah umum lebih memilih membuang sampah di sungai tempat tinggal mereka, alasannya? Lebih mudah membuang sampah di sungai tinggal “plung”. Ya itulah realita masyarakat Ibu Kota, edukasi diperlukan agar tidka membuang sampah sembarangan. Alam marah juga karena ulah manusia itu sendiri bukan?

Bicara dan menulis memang mudah, namun implementasinya yang susah. Siapa bilang? Mulai dari pribadi sendiri dulu. Jika memang kalian termasuk orang yang ter-edukasi dengan baik maka kalian bisa mulai untuk tidak membuang sampah sembarangan, terlebih tidak membuang sampah di saluran air maupun sungai. Kemudian bisa mulai untuk membangun sumur resapan air hujan di rumah masing-masing. Hal ini untuk Jakarta yang lebih baik :)

Jakarta, 17 Januari 2013.